12/8/16

Relevansi Dramaturgi "Goffman" dalam realitas kontemporer.


Relevansi Dramaturgi "Goffman" dalam realitas kontemporer.
(M. Rizal Santoso)
Dramaturgis dalam sosiologi sendiri adalah analogi dari sebuah kehidupan yang bertujuan menjelaskan sebuah fenomena menarik dimana masyarakat atau individu di dalam masyarakat mempunyai lebih dari satu peran sosial. Teori tersebut di mulai dengan pemahaman Goffman mengenai konsep looking glass self yang di kemukakan holeh Hortoon cooly bahwa individu senantiasa menampilkan dirinya yang ingin di tampilkan,melalui proses imajinatif antara prediksi dan introspeksi, lebih lanjut cooly mengatakan :
Didalam imajinasi, kita akan mencoba mempresentasikan dan menaksirkan bagaimana penampilan kita seperti apa yang orang lain lihat. Sudahkah kita pantas berpenampilan, berprilaku, berbicara, dan seterusnya, dipengaruhi olehnya secara berfariasi. (Cooly 1902/1964,dalam teory sosiologi Ritzer : 633)
 
(cooly)

Dari sumbangsi cooly tersebut goffman mengembangkan teori Dramaturgis secara lebih rinci, ia menjelaskan bagaiman seorang individu memerankan dirinya sebagai aku dalam bagian masyarakat dan di sisi lain ia memiliki pula sisi diriku yang mungkin lebih manusiawi, lebih alamiah dan seringkali di tutupi untuk menjaga kedudukan sosial. Dua keadaan ini di jelaskan Goffman sebagai Front stage dan Back stagefronstage dalah sesuatu yang sengaja di tampilkan untuk menunjang profesionalitas dan cendrung adalah sebuah hasil seleksi dari tingkah laku kehidupan manusia, keberhasilan suatu peran dalam front stage ini di tentukan oleh beberapa komponen yaitu, Seting atau tata ruang, dan perlengkapan kita dalam berperan yaitu perlengkapan yang melekat (Apperenc) contohnya adalah, pakaian dinas, seragam, pistol oleh polisi, helm oleh pembalap dan sejenisnya, kemudian selain itu terdapat perlengkapan yang bersifat gestur/mimik pendukung (maner) contohnya, preman harus terlihat garang, dosen harus tampak cerdas dan seterusnya.
Terdapat pula di dalamnya sesuatu yang lebih bersifat manusiawi dan bagian yang seharusnya tidak di tampilkan dalam frontstage untuk menunjang profesionalitas, wibawa atau kesuksesan permainan peran kita yang di sebut dengan Back Stage, panggung belakang ini lebih bersifat dirahasiakan untuk para audience kita dalam kehidupn sosial, contohnya adalah misalnya seorang dosen yang tidak mengetahui tentang suatu teori atau lupa dan tidakmampu mengajar dengan optimal karena anaknya sedang sakit di rumah, maka ia harus tetap terlihat cerdasa dan berkonsentrasi penuh untuk kelas tersebut. kita berupaya sebaik mungkin untuk mengemas penampilan kita dengan melakukan pembatasan kontak dengan audience kita yang dalam bahasa goffman disebut dengan Mistifikasi. Akantetapi meskipun sebaikmungkin kita berusaha mengemas peran kita dengan baik menyembunyikan backstage dan menampilkan frontstage seringkali tetap terjadi situasi dimana pemeran dan penonton gagal memahami situasi (Out side) misalnyasaja seorang kyai yang tak sengaja bertemu dengan santri nya di sebuah moll, atau seorang anak yang bertemu ayahnya di Warnet.

B. Permasalahan.
Setelah sedikit mengulas kembali tulisan beberapa waktu lalu mengenai teori Dramaturgi dalam sosiologi tulisan ini akan merangkak lebih dalam atau bahkan hanya berputar dibagian permukaan yang juga menarik melalui proses diskusi bersama kelompok kecil tutorial, menyangkut kritik dan fenomena mencitra ataukah di citra terlebih dahulu dalam dramaturgi, tak lepas pula didalamnya adalah bagaiman seorang individu memerankan dramaturgi dalam masyarakat berkaitan dengan fakta sosial keagamaan dan relevansi dramaturgi di era kontemporer.
C. Pembahasan.
Hal yang cukup menarik menurut saya pribadi ketika dalam proses tutorial terkain pembahasan ini adalah diskusi panjang penuh dialektis yang saling beradu kuat antar dua kubu pemikiran mahasiswa, antar mencitra ataukah dicitra/mempertahankan citra yang terlebih dahulu menjadi bahasan dalam dramaturgi,  yang dimaksud di sini adalah seorang individu terlebih dahulu mendapatkan perannya ataukah mengusahakan perannya dalam proses dramaturgi, kita ketahui bahwa contoh umum dan penjelasan dalam kuliah menggiring pada suatu pemahaman bahwa dramaturgi terkesan hanya terjadi pada peran yang telah di lekatkan oleh masyarakat dan individu sebagai pemegang peran tersebut berupaya menjaga definisinya dalam memainkan peran tersebut, akantetapi sering pula kita jumpai bahwa seorang individu kerap kali berupaya melakukan dramaturgi untuk mendapat suatu lebel dari masyarakat tentang citra dirinya,(management kesan) di akhir perdebatan memang terjadi kesepakatan bahwa keduanya merupakan proses dramaturgis, akantetapi tulisan ini salahsatunya berlandaskan kehawatiran akan salah pemaknaan mengenai kedua hal tersebut. olehkarenanya perlu penambahan analisis yang diharapkan dapat mendukung pemahaman mengenai dramaturgi secara lebih relevan.
Menurut goffman sendiri dramaturgi adalah suatu analogi dimana front stage seringkali adalah sebuah hasil proses seleksi dan ia akan berfungsi optimal ketika terjadi dalam suatu instansi resmi[1]. “...dia menhendaki kondisi ideal tentang dirinya, olehkarena itu dia harus menutupi apa yang menurutnya adalah kekurangan”  (Ritzer.Teory sosiologi.2012) Dari konsep tersebut kemudian muncul sebuah gejala yang berbeda di iringi dengan perkembangan teknologi misalnya. Kita kerap kali menemukan di sosial media akun yang sebenarnya bertolak belakang dengan kehidupan aslinya. Biasnya ini terjadi di kalangan perempuan dimana ia cenderung memposting hal yang berbau glamor dan tampak berusaha ingin menunjukan citra dirinya sebagai orang yang berkemampuan untuk aktifitas sosial mewah seperti liburan, makan di restoran mewah dan sejenisnya yang padahal dalam kesehariannya ternyata bisa dikatakan dia berasal dari keluarga yang kurang dalam hal ekonomi, contoh yang lebih sederhana adalah misalnya saja sering sekali di bulan ramadhan seperti saat ini orang berlomba untuk “terlihat” sholeh di muka umum dan di mata tuhannya, yang semula individu tersebut kerapkali melakukan dosa dan kemungkaran dalam bahasa agama, namun pada satu masa berlomba mengupayakan perubahan definisi keagamaan masyarakat tentang dirinya. Secara sosiologis peristiwa tersebut dirasa cukup menarik karena terjadi sebuah fenomena ketika konsep fakta sosial yang di paparkan oleh Emile Durkheim menjadi lebih menakutkan daripada tuhan itu sendiri, secara sederhana dapat kita katakan selain berdramaturgi dengan masyarakat beberapa individu juga melakukan dramaturgi dengan tuhan.
(Gofman)

Beberapa contoh diatas terkait mencitra agaknya mengantarkan kita pada kritik kususnya untuk gofman sendiri yang terlalu memaksakan teori dramaturgis dalam lingkup yang formal, sebagaimana di jelaskan bahwa dramaturgi adalah sebuah analogi tentang permaian peran, dimana peran tersebut menjadi optimal ketika di perankan selepas dia mencapai status yang di labelkan oleh lingkungan sosialnya[2].
Perkembangan teknologi dan media sosial seharusnya dapat memperkaya bahan kajian para sosiolog kususnya dramaturgi, sosial media yang tak mengenal batasan geografi dan waktu menjadi kebaharian dalam interaksi sosial yang begitu unik. sosial media kerap kali mengaburkan antara Frontstage dan backstage seorang individu yang juga pada saat berkaitan mempertegas tirai antara keduanya. Berangkat dari sebuah pertanyaan Novitan putri amanda dari sesi diskusi dalam tutorial yang mengatakan :
“bagaimana relevansi teori Dramaturgi menjelaskan fenomena dramaturgi dalam sosial media ketika yang dianggap backstage kemudian menjadi hal menarik yang di pertontonkan, misalnya saja foto ketika di club malam dan adegan berpacaran yang di unggah dengan bangga ?.”
dari pertanyaan tersebut dapat di gambarkan bahwa sosial media perkembangan perubahan yang begitu besar dalam kajian sosiologi kontemporer, sebelum menjawab pertanyaan tersebut terlebihdahulu kita harus memahami karakteristik sosial medi yang sebelumnya telah saya singgung di muka paragraf yaitu seringkali tidak mengenal batasan waktu dan ruang yang berdampak pada sebuah miniatur dunia tanpa batas yang memicu melesatnya akulturasi dan asimilasi budaya yang seringkali tidah di barengi secara menyeluruh, contohnya dengan adanya sosial media, persebaran westrnisasi menjadi tak terkendali,  orang yang aktif si sosial media dan memiliki lingkaran pertemanan yang luas tentunya tidak masalah dengan foto mesra teman sosmednya yang diunggah di facebook, akantetapi hal tersebut berbeda ketika di jumpai oleh orang yang berlatar belakang timur, dan memiliki lingkar pertemanan yang sempit, fenomena tersebut menurutnya adalah backstage yang dianggap tabu. Analogi demikian sekiranya dapat sedikit menjelaskan fenomena kaburnya backstage dan front stage dalam media sosial.
Selain menjadi kabur, menguatnya batasan back stage dan frontstage dalam media sosial kerap kali terjadi bersamaan, hal tersebut daat di buktikan dengan munculnya akun sosil media pencitraan diri, akun palsu, dan sebagainya, bahkan kerapkali satu individu memiliki beberapa akun sosial media yang berbeda dalam tujuan penggambaran citra di sosial media tersebut, seorang pemuka agama bisa saja menguatkan perannya dengan sering memposting tulisan berbau nasehat dan anjuran berbuat baik, namun tidak menutup kemungkinan banyak diantaranya yang dalam kehidupan sosial nyata dia adalah seorang preman, sampah masyarakat dan sejenisnya yang justru memiliki akun sosial media yang terkesan dianggap sebagai orang yang baik menurut subjektif masyarakat.  Hal tersebut dikarenakan analogi frontstage yang di ciptakan oleh pemeran dalam sosial media dan menjadikan realitas sosial nya sebagi back stage.
D. Penutup.
Dalam kajian tersebut dirasanya teori dramaturgi yang di paparkan eving goffman pada pertengahan abad 19 masih memeiliki komponen yang cacat ketika digunakan untuk menganalisa suatu fenomena sosial kontemporer kususnya yang berkaitan dengan campur tangan teknologi, agaknya masyarakat saat ini cenderung meninggalkan nilai kebudayaan lama dan menjadi lebih apatis terhadap lingkungan sosial nyata dan meleburkan diri dalam sebuah panggung sandiwara besar bernama media sosial. Dunia maya menjadi sebuah dunia baru untuk kajian sosiologi yang masih terjebak dalam teori lama yang belum tentu dapat relefan guna memaknai fenomena modrn kususnya Dramaturgi.
DAFTAR PUSTAKA

Ritzer, George. And Douglas J. Goodman. 2007, Teori Sosiologi Modern, Prenada Media Group, Jakarta. (diterjemahkan dari Modern Sociological Theory, 6th Edition, edisi ke-6 cetakan keempat, McGraw-Hill)
Pasaribu, Saut. 2012. Teori Sosiologi: Dari Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Terakhir Postmodern. Edisi Kedelapan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta (Diterjemahkan dari Handbook of Social Theory, karya George Ritzer, 2001
Atina.rizki. 2008. Teory dramaturgi Drama turgi. Di akses dari https://meiliemma.wordpress.com/2008/01/27/dramaturgi/ pada  pukul 20.30. 19 april 2016.



[1] Ritzer.george Teory sosiologi 2012, hlm.636
[2] Ritzer.george Teory sosiologi 2012, 

No comments:

Post a Comment

Silahkan berkomentar terkait artikel dan komentar atas konten blog, melakukan promosi yangbberbau sara dan pornografi akan di hapus oleh admin blog. Terimakasih atas perhatiannya