11/15/17

Tawurji, Tradisi Anak-anak Cirebon pada Malam rabu Wekasan

(anak-anak sedang membawa obor dan berkeliling komplek)
Setiap daerah yang dihuni manusi pasti memiliki kebudayaan yang berbeda- beda, budaya sendiri lahir dari proses cipta, rasa karya dan karsa manusia (soerjono suekanto) kebudayaan ini tercipta melalui proses yang Panjang, di seleksi dengan tolak ukur nilai dan norma yang dianggap baik di masyarakat, kebudayaan terus berkembang mati dan berganti seiring berjalannya waktu.
Salahsatu bentuk kebudayaan adalah tradisi. Tradisi sendiri berarti sesuatu prosesi ritual atau aktifitas, tata acara dan kelakuan terhadap sesuatu atau di waktu tertentu pada suatu daerah, salahsatu bentuk budaya dapat bersifat local maupun universal, dengan berkembangnya globalisasi banyak diantara kebudayaan barat dan eropa yang mulai mendunia bahkan diantaranya banyak di adopsi oleh masyarakat di luar eropa, salahsatunya adalah budaya malam “hellowin”, padahal apabila kita sadari, di Indonesia sendiri telah kaya akan kebudayaan dan tradisi yang layak untuk di lestarikan, salahsatunya adalah tradisi tawurji di Cirebon.
Apa itu Tawurji ? :
Tradisi Tawurji itu sendiri berasal dari dua suku kata yaitu “tawur dan ji” tawur dapat di maknai sebagi melemparkan sesuatu, sedangkan ji berasal dari kata Haji / kaji (sebutan lain untuk orang yang telah menunaikan ibadah haji di Cirebon) Tawurji sendiri merupakan tradisi unik dimana pada malam rabu wekasan atau malam rabu terakhir bulan sapar dalam kalender hijriah, anak -anak kecil akan berkeliling kampung atau kompleks pada waktu selepas sholat magrib, hingga adzan isya dengan menggunakan peci dan sarung dan membawa obor, namun di beberapa wilayah lain di Cirebon adat berkeliling tersebut sering di lakukan di waktu lain namun tetap di hari rabu wekasan. Dan tidak menggunakan obor. Biasanya sambal berkliling kampung anak-anak tersebut akan berdiri di depan rumah dan akan menyanyikan tembang tawurji yang berbunyi “wur-tawur ji tawur, selamat dawa umur” dalam Bahasa Indonesia tembang tersebut kurang lebih memiliki makna “lemparkan ji (haji) lemparkan , selamapt Panjang umur”, lemparkan di sini yang di maksud adalah memberikan uang kecil atau permen atau apapun dalam bentuk sedekah, (sawer) akan tetapi pada umumnya dengan memberi uang recehan pada anak-anak. Tradisi ini mirip dengan malam hallowin di eropa namun di praktikan dengan cara yang berbeda dan memiliki keorisinilan tersendiri.

Asal Usul Tradisi Tawurji :

Tidak ada literature yang jelas terkait asal mula tradisi ini karena memang telah berlangsung secara turun temurun. Namun dari beberapa sumber yang di rangkum secara bebas baik itu lisan mapun tulisan terdapat beberapa asumsi atas terbentuknya tradisi tersebut.
·         Pertama : Rabu Wekasan dan tolak bala :

Dalam kepercayaan nusantara dan juga banyak di percaya oleh kalangan Masyarakat yg bergama muslim bahwa dalam bulan safar terdapat banyak kemalangan yang akan di turunkan oleh Allal SWT, seperti apa yang di tulis dari beberapa web di internet dan tertulis dalam kitab -kitab mengatakan bahwa pada bulan safar allah menurunkan lebih dari 3000 bala dalam satu malam di muka bumi, maka untuk mencgah bala tersebut di anjurkan untuk shalat hajat tolak bala atau sholat mutlah di lanjutkan dengan membaca doa dan memperbanyak sedekah, oleh karena itu tradisi tawurji merupakan salahsatu bentuk bersedekah dan dibalas dengan doa anak-anak fakir dan anak yatim, dengan ucapan Tawur JI (kaji) tawur, “Selamat dawa umur “ ungkapan ji, di ucapkan sebagai bentuk penghormatan, karna pada masyarakat yang masih bersifat tradisional gelar haji merupakan symbol kemapanan status sosial dan ekonomi, dan bagi para masyarakat yang belum menjadi haji penyebutan tersebut di harapkan dapat menjadi doa agar segera menunaikan Haji. Sedangkan kata selamat dawa umur menjadi poin penting dalam doa tersebut karena mendoakan agar terhindar dari bala dan mendapatkan umur yang Panjang.

·         Kedua : Tawurji merupakan tradisi yang di perintahkan Wali songo

Cirebon merupakan kota yang menjadi tempat salahsatu wali songo menyebarkan agama islam hal tersebut tentu saja memengaruhi banyak aspek sosial budaya di masyarakat. Tradisi tawurji di duga sangat berkaitan dengan kematian Syekh Siti Jenar, yang di ceritakan harus di eksekusi mati oleh para wali lainnya karna ajarannya yang di khawatirkan dapat menyesatkan para muridnya. Berdasarkan hukuman mati tersebut akhirnya banyak dari anak asuh syekh siti jenar menjadi terlantar. Menurut beberapa sumber anak asuhnya berjumlah 40 orang, dan untuk mencegah anak- anak tersebut kelaparan, maka para wali menyuruh setiap rabu wekasan untuk memberikan uang kepada anak- anak tersebut sebagai sedekah, hal tersebut pula di duga melatari orang Cirebon untuk membuat kue Apem untuk di bagi- bagikan dan kirab atau ritual mandi di sungai.

Tawurji di Kraton cirebbon
Terlepas dari dua asumsi mengenai asal usul tradisi ini, tawurji merupakan bagian dari budaya yang juga layak untuk di lestarikan dengan di ambil sisi positifnya dan di hilangkan sudut negatifnya. Demikian telah di paparkan sedikit dari pemahaman saya tentang budaya Tawurji yang mungkin akan punah di suatu hari. Sejatinya tawurji ini merupakan amanah suci dari para wali songo ataupun jalan untuk memberikan sedekah pada sesame oleh karenanya mari kita sikapi dengan sudut pandang yang positif untuk memaknai sebuah tradisi yang telah berlangsung sejak lama ini.

#meninjau ulang bahwa terdapat bala yang di turunkan di bulan sapar khususnya pada hari rabu wekasan, sebaiknya kita pelajari hal tersebut secara lebih dalam dan hendaknya harus kita yakini bahwa semua bulan adalah sama yang memiliki unsur positif dan negative, yang perlu di lakuan adalah tetap ikhtiar dan menjalani semuanya dengan sebaik mungkin. terimakasih

Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan berkomentar terkait artikel dan komentar atas konten blog, melakukan promosi yangbberbau sara dan pornografi akan di hapus oleh admin blog. Terimakasih atas perhatiannya